Gambaran
Kinerja Infrastruktur
Presiden Jokowi dalam
pertemuan beberapa waktu yang lalu menunjukkan keprihatinannya terhadap kondisi
infrastruktur yang kita miliki. Fakta yang ada memang menunjukkan bahwa kondisi
infrastruktur Indonesia masih kalah dibandingkan dengan negara lain. Salah
satu indikatornya adalah besaran Logistics Performance Index (LPI) yang
dikeluarkan oleh Bank Dunia. Beberapa aspek yang dinilai dalam pengukuran
kinerja berbasis perdagangan antar negara tersebut adalah kinerja kepebeanan,
infrastruktur, pengiriman internasional, kualitas dan kompetensi pekerja logistik,
penelusuran pengiriman (tracking and
tracing) dan waktu pengiriman.
Dalam LPI edisi terakhir tahun
2014, Indonesia menempati urutan ke 53 pada kinerja keseluruhan, di bawah Singapura,
Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Posisi ini sesungguhnya relatif membaik
dibandingkan tahun 2010 dan 2012 yang masing-masing menempati urutan ke 75 dan
59. Namun demikian, kinerja aspek infrastruktur relatif berfluktuasi walaupun
cenderung mengalami perbaikan dari tahun ke tahun, yaitu dari urutan ke 69 pada
tahun 2010 menjadi urutan 85 (2012) dan urutan 56 (2014). Secara absolut, kondisi
infrastruktur Indonesia sesungguhnya mengalami perbaikan yang cukup signifikan
pada tahun 2014 dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini dapat dilihat dari
nilai LPI sebesar 2,92 dibandingkan 2,54 pada tahun 2010 dan 2012, dengan skala
nilai tertinggi 4. Hal ini sesungguhnya menunjukkan perbaikan yang cukup
menggembirakan dalam penyediaan infrastruktur logistik di Indonesia.
Permasalahan
Inbound Logistics
Namun demikian, ada hal
lain yang patut dikhawatirkan dalam penyediaan infrastruktur logistik,
khususnya apabila pemerintah ingin mengembangkan infrastruktur yang langsung
menyentuh hajat hidup orang banyak. LPI sesungguhnya merupakan potret infrastruktur
skala besar dalam lingkup global. Infrastruktur tersebut berada pada bagian
hilir proses produksi dan pemasaran yang lazim disebut sebagai outbound logistics. Sementara dalam tahap
produksi lebih banyak berperan infrastruktur lokal tempat bahan baku dan tenaga
kerja berasal. Infrastruktur ini lazim disebut sebagai inbound logistics yang berperan dalam mendukung proses produksi.
Berdasarkan Data Potensi
Desa BPS tahun 2014, kondisi infrastruktur logistik khususnya jalan pada
tingkat perdesaan di Indonesia sangat timpang dilihat dari jenis permukaan dan aksesibilitasnya.
Di Papua, sebanyak 69,2% desa memiliki permukaan jalan tanah dan lainnya, sebaliknya
di Jawa hampir 100% kondisi permukaan jalan sudah diaspal dan diperkeras. Dari
sisi aksesibilitasnya, sebanyak 60,5% desa di Papua tidak dapat dijangkau
dengan jalan darat sepanjang tahun, sementara di Jawa hampir seluruhnya sudah
mampu dijangkau. Wilayah lain di Indonesia mencerminkan sebaran dari kedua
kondisi ekstrem tersebut.
Apa
Dampaknya?
Permasalahan
infrastruktur jalan di tingkat lokal ini sangat penting, karena merupakan
faktor pembentuk harga barang hasil produksi. Harga bahan baku yang tinggi
karena susahnya akses dan biaya tenaga kerja yang mahal akan berdampak pada
harga barang yang lebih tinggi dibandingkan wilayah produksi lain. Terlebih, buruknya
infrastruktur ini akan lebih banyak berdampak pada para pemodal kecil dan
menengah yang merupakan bagian terbesar dari aktifitas produktif masyarakat. Mengapa
demikian, karena pemodal besar biasanya membangun sendiri infrastruktur untuk
menunjang produksi sesuai dengan skala ekonomi yang dimiliki. Sementara para
pemodal kecil dan menengah mau tidak mau harus memanfaatkan infrastruktur yang
ada sebagai pilihan yang paling efisien.
Menengok nilai index daya
saing global (global competitiveness
index) yang dikeluarkan oleh World
Economic Forum (WEF) tahun 2014 - 2015, Indonesia berada pada peringkat ke
34 diantara 144 negara dan termasuk kelompok negara-negara yang kinerja
ekonominya ditentukan oleh faktor efisiensi (efficiency driven). Namun demikian,
prasyarat dasar (basic requirement) dalam
mencapai daya saing yang tinggi, yang salah satu pilarnya adalah kondisi
infrastruktur, berada pada peringkat lebih rendah, yaitu 49. Hal ini menunjukkan
bahwa perbaikan infrastruktur dasar, salah satunya infrastruktur logistik memang
merupakan kunci untuk mendorong Indonesia lebih efisien dan mampu berdaya saing
dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Komentar
Posting Komentar